Rabu, 13 Januari 2016

WASIAT TENTANG JIHAD


Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu berkata :
“Tiada suatu kaum yang meninggalkan jihad kecuali Allah pasti menimpakan kehinaan.”
(Bidayah wa An-Nihayah, V/248)

Khalid bin Walid Radhiyallahu anhu berkata :
“Tidak ada yang dapat menandingi kegembiraanku bahkan lebih gembira dari saat malam pengantin, yaitu suatu malam yang sangat genting dimana aku dengan ekspedisi tentara bersama orang-orang Muhajirin menggempur kaum musyrikin di waktu subuh.”
(Siyar A’lam An-Nubala, I/375)

Abu Darda’ Radhiyallahu anhu berkata :
“Hanyasanya kalian memerangi musuh-musuh kalian dengan amal-amal kalian.”
(Fath Al-Bari, VI/30)

WASIAT TENTANG AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR



Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Sungguh celaka orang yang tidak memiliki hati yang bisa digunakan untuk mengenal yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.”
(Ighastatu Al-Lahfan, I/21)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Sesungguhnya termasuk kelalaianmu adalah ketika kamu berpaling dari Allah, yaitu ketika engkau melihat sesuatu yang dapat membuatNya murka, namun membiarkannya, tidak memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar karena takut pada sesuatu yang tidak mampu memberi bahaya dan manfaan.”
(Ayna Nahnu min Akhlaqi As-Salaf, 67)

Al-Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata :
“Jika saja ada doa yang mustajab bagiku, niscaya aku akan peruntukkan bagi seorang imam. Karena dengannya akan terciptanya tanggung jawab, maka jika tanggung jawab sudah tercipta akan amanlah peribadatan dan negeri ini.”
(Al-Bidayah wa An-Nihayah, X/631)

Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata :
“Barangsiapa yang meninggalkan amar ma’ruh dan tidak mencegah yang munkar, karena takut kepada makhluk, maka ketaatan akan dicabut darinya.”
(Al-Jawabu Al-Kafy, 129)

WASIAT TENTANG PERGAULAN



Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu berkata :
“Seutama-utama manusia pada dirimu adalah manusia yang memberikan rasa takut padamu (kepada Allah).”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, III/532)

Luqman Al-Hakim berkata kepada anaknya :
“Wahai anakku ada tiga hal yang tidak dapat diketahui kecuali pada tida tempat; Tidak diketahui seseorang yang lembut kecuali pada saat (dia) marah, tidak diketahui seorang yang pemberani, kecuali pada saat perang, dan tidak diketahui seorang saudara, kecuali pada saat kita membutuhkan.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, III/534)

Ali Radhiyallahu anhu berkata :
“Pergaulilah (bertemanlah) kepada orang yang melupakan kebaikannya kepadamu dan menyimpan hak-hakmu pada dirinya.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, III/538)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Tiga hal yang apabila terdapat dalam diri seseorang, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan keimanan; berteman dengan orang faqih, membaca Al-Qur’an dan berpuasa.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, III/538)

Abu Abdillah Al-Khurrasany Rahimahullah berkata :
“Barang siapa yang sedikit berteman dengan ulama, maka akan pergilah akhiratnya; barangsiapa yang sedikit berteman dengan ikhwan-ukhwannya, maka akan sedikit orang yang menolongnya; dan barangsiapa yang sedikit berteman kepada penguasa, maka akan hilanglah kepentingan dunianya.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, III/539)

WASIAT TENTANG PERSAUDARAAN



Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu menasehatkan lima hal :
“Pertama, hindarilah olehmu perkataan yang tidak medatangkan manfaat bagimu, bukan pada tempatnya. Berapa banyak orang yang berbicara tidak mendatangkan manfaat baginya dan tidak pada tempatnya, sungguh dia berada dalam kebinasaan. Kedua, janganlah kamu menentang orang yang bodoh dan tidak pula orang yang faqih, karena sesungguhnya orang yang faqih itu akan mengalahkanmu dan orang yang bodoh itu akan menyakitimu. Ketiga, sebutlah hal yang kamu suka dari saudaramu tatkala dia tidak ada di hadapanmu. Keempat, tinggalkan hal yang kamu tidak sukai darinya. Kelima, lakukanlah amalan seseorang yang dia ketahui bahwa amalan tersebut berakibat baik dan mencukupinya.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, I/66)

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :
“Ikhwan (saudara seiman) kita, lebih berharga daripada keluarga kita. Keluarga hanya akan mengingatkan kita kepada dunia, sedangkan ikhwan kita akan mengingatkan kita kepada akhirat.”
(Zhahirah Dha’fil Iman,24)

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata :
“Ikhwan yang paling berat bagiku adalah yang membebaniku dan aku merasa waspada darinya, sedangkan ikhwan yang paling ringan di dalam hatiku adalah jika aku bersamanya, sama seperti ketika aku sendirian.”
(Minhaju Al-Qashidin, 102)

WASIAT TENTANG ZUHUD PADA DUNIA


Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Kalian semua lebih banyak shalat dan lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah daripada sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam padahal mereka lebih utama daripada kalian.” Beliau ditanya, Dengan apa mereka lebih diutamakan?” Beliau menjawab, “Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat dibandingkan kalian.”
(Shifatu Ash-Shafwah, I/420)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Barangsiapa yang menginginkan akhirat, dia akan mengorbankan dunianya. Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka akan mengorbankan akhiratnya. Wahai kaum, korbankanlah yang fana demi sesuatu yang abadi.”
(Siyar A’lam An-Nubala, I/496)

Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata :
“Dengan tawakkal kepada Allah terkumpullah keimana, dan ia berdoa, ‘Ya Allah, aku memohon kepadaMu kebenaran tawakkal padaMu dan kebaikan sangkaan kepadaMu’.”
(Tahdzib Siyaru A’lam An-Nubala, I/393)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata :
“Saya tidak pernah melihat kezuhudan yang paling sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita bisa dapati orang zuhud dalam makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun kalau kita berikan kekuasaan kepadanya, ia akan mempertahankan dan bermusuhan untuk mempertahankannya.”
(Siyaru A’lam An-Nubala, VII/262)

Sufyan bin Uyainah Rahimahullah berkata :
“Zuhud adalah bersabar dan mendekat dengan kematian.”
(Tahdzib Siyaru A’lam An-Nubala, II/702)

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud di dunia, menghendaki akhirat, mengetahui dinnya, terus-menerus beribadah kepada Rabbnya, tidak mengusik kehormatan orang muslim dan harta benda mereka, serta memberi nasehat kepada mereka.”
(Minhaju Al-Qashidin, 15)

Ayyub Rahimahullah berkata :
“Hendaklah seseroang berbuat taqwa. Apabila ia hendak berzuhud, maka janganlah kezuhudannya menjadikan ketidaknyamanan bagi selainnya, seseorang yang sembunyi-sembunyi dalam berbuat zuhud lebih baik daripada seseorang yang terang-terangan berbuat zuhud.”
(Tahdzib Siyaru A’lam An-Nubala, II/214)

Imam Ahmad Rahimahullah berkata :
“Zuhud di dunia adalah memendekkan angan-angan.”
(Tahdzib Madarijus Salikin, I/451)

Al-Junaid Rahimahullah berkata :
“Orang yang zuhud tidak bergembira karena mendapatkan dunia, dan tidak sedih karena kehilangan dunia.”
(Tahdzib Madarijus Salikin, I/453)

Muhammad bin Al-Hanafiyah Rahimahullah berkata :
“Barangsiapa yang memuliakan jiwanya, maka ia tidak berkeinginan terhadap dunia.”
(Shifatu Ash-Shafwah, II/76)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :
“Jika yang rusak diantara kita dari kalangan ulama, maka ia menyerupai orang yahudi. Sedangkan bila ada yang rusak diantara kita dari para hamba, maka ia menyerupai orang nasrani.”
(Iqtidha Ash-Shirathal Mustaqim, 5)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :
“Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat, sedangkan wara adalah meninggalkan apa yang ditakutkan dapat membahayakan kepentingan akhirat.”
(Tahdzib Madarij As-Salikin, I/453)

WASIAT TENTANG MUHASABAH


Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
“Hisablah diri kalian sebelum nanti dihisab dan timbanglah amalan kalian sebelum nanti ditimbang. Yang demikian adalah lebih ringan bagi kalian saat hisab di Hari Akhir nanti. Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan esok, pada sidang akbar.”
Imam Ibnul Jauzi, Shifatu Ash-Shafwah, I/286 dan Tazkiyatu An-Nafs, 75)

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :
“Orang mukmin adalah kuat atas dirinya, dia menghisab dirinya karena Allah. Sesungguhnya bisa jadi hisab itu akan ringan bagi suatu kaum di Hari Kiamat, yang ketika selama di dunia mereka rajin menghisab dirinya. Dan sesungguhnya hisab itu akan berat bagi suatu kaum di Hari Kiamat, yaitu mereka yang tidak melakukan muhasabah di dunia.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 75)

WASIAT TENTANG INGAT MATI


Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu berkata :
“Sekiranya aku tahu bahwa Allah telah menerima satu kali saja sujudku, niscaya tidak ada suatu perkara ghaib yang paling aku sukai, selain kematian.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 74)

Amar bin Yasir Radhiyallahu anhu berkata :
“Cukuplah kematian sebagai petunjuk, yakin sebagai kekayaan dan ibadah sebagai amalan.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 65)

Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata :
“Seandainya hatiku tidak mengingat kematian, aku sangat takut hatiku akan rusak.”
(Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala, I/394)

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :
“Kematian membuat dunia menjadi remeh. Ia tak menyisakan sedikitpun kesenangan di dalamnya. Selama seorang hamba menyibukkan hatinya dengan mengingat maut, menjadi hinalah dunia dan seluruh yang ada di dalamnya dalam pandangannya.”
(Minhaju Al-Qashidin, 366)

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :
“Sungguh mengherankan keadaan orang-orang yang diperintahkan mempersiapkan bekal dan diseru untuk pergi, namun mereka justru duduk bercanda.”
(Minhaju Al-Qashidin, 366)

Abdullah bin Muththarif Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya kematian dapat melenyapkan kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang diliputi oleh kenikmatan itu. Karenanya, carilah kenikmatan yang tak ada kematiaanya di dalamnya.”
(Tahdzib Mauidah Mukimin, 443)

Abu Athahiyah Rahimahullah berkata :
“Engkau mengharapkan keselamatan, sedangkan dirimu menyelisihi jalanNya. Padahal, perahu tidak mungkin berjalan di atas daratan.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 114)

 

© 2013 Da'wa Santri Salafi. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top