Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
“Rendah
dirilah kalian pada orang yang mengajarkan ilmu dan rendah diri pula
pada orang yang kalian ajari, janganlah kalian menjadi para ulama yang
kasar.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, I/243)
Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu berkata :
“Jadilah
kalian orang-orang rabbani, hukama (ahli hikmah) dan fuqaha. Dikatakan
bahwa rabbani adalah orang yang mendidik manusia dari ilmu yang kecil
hingga yang besar.”
(Fath Al-Bari, I/212 dan Syarhu As-Sunnah, I/194)
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Kalian berada pada masa dimana beramal lebih baik dari berilmu, dan akan datang suatu zaman ilmu lebih baik daripada beramal.”
(Tanbih Al-Ghafilin, 199)
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Meninggalnya
seorang alim merupakan sebuah celah dalam Islam, dan tidak ada sesuatu
yang bisa menambalnya, selama malam dan siang tidak bisa bersatu.”
(Syarhu As-Sunnah, I/244)
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Hendaklah
kalian memiliki ilmu sebelum ilmu itu diangkat dan dilenyapkan,
lenyapnya ilmu dengan wafatnya orang yang mengajarkannya. Seorang tidak
akan mungkin dilahirkan dalam keadaan berilmu, karena sesungguhnya ilmu
itu didapatkan dengan belajar.”
(Tahdzib Mau’idhah Al-Mu’minin, 16)
Mu’adz bin Jabal Radhiyallah anhu berkata :
“Pelajarilah
ilmu, karena mempelajari ilmu karena Allah menceriminkan ketakutan;
mencarinya ibadah; mengkajinya adalah tasbih; membahasnya adalah jihad;
mengajarkan kepada orang yang tidak tahu adalah shadaqah; membelanjakan
untuk keluarga adalah bentuk taqarrub. Ilmu adalah pendamping saat
sendirian dan teman karib saat sepi.”
(Minhaju Al-Qasidin, 15)
Amr bin Al-Ash Radhiyallahu anhu berkata :
“Orang
yang berakal bukanlah orang yang sekedar mengetahui yang baik dari yang
buruk, akan tetapi orang yang berakal adalah yang mengetahui mana yang
baik dari dua keburukan.”
(Siyaru Al-A’lam An-Nubala, III/74)
Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata :
“Apabila kalian mendapatkan seorang alim yang mendekati penguasa, maka waspadalah karena ia adalah pencuri.”
(Mukhtashar Minhaju Al-Qasidin, 21)
Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata :
“Celakalah orang yang tidak mengetahui sesuatu lalu ia mengatakan, ‘Saya mengetahuinya’.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, II/65)
Sa’id bin Al-Musayyib Rahimahullah berkata :
“Sungguh, Aku akan berjalan siang dan malam hanya untuk mencari satu hadits saja.”
(Tahdzib Siyaru A’lam An-Nubala, II/37)
Sa’id bin Al-Musayyib Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya
hamba Allah itu bukanlah orang yang berpuasa dan shalat, akan tetapi
mereka adalah yang faqih di dalam agamanya dan berfikir dalam
urusannya.”
(Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, I/118)
Nasehat Imam Malik kepada Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah :
“Sesungguhnya
aku melihat Allah telah menganugerahkan cahaya dalam hatimu, maka
janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan berbuat maksiat.”
(Jawabu Al-Kafi, 140)
Imam Syafi’i Rhimahullah berkata :
“Aku mengadu kepada Waki (nam guru beliau) mengenai buruknya hafalanku,
Maka beliau menyarankan agar aku meninggalkan maksiat
Dan ketahuilah bahwa ilmu adalah keutamaan
Dan keutamaan Allah tak akan diberikan kepada orang-orang yang berbuat maksiat.”
(Jawabu Al-Kafi, 140)
Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata :
“Berlindunglah
kepada Allah dari fitnah seorang hamba yang bodoh dan fitnah seorang
berilmu yang berbuat kejelekan, karena fitnah keduanya adalah sumber
dari segala fitnah.”
(Imam Baghawai, Syarhu As-Sunnah, II/318)
Imam Az-Zuhri Rahimahullah berkata :
“Apabila suatu majlis berlama-lama, maka di dalamnya adalah bagian bagi setan.”
(Siyaru Alam An-Nubala, bab Adabu Da’wah)
Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah berkata :
“Kami
bukanlah termasuk fuqaha. Tetapi, bila kami mendengarkan hadits, kami
meriwayatkannya. Yang disebut fuqaha adalah orang yang berilmu dan
mengamalkan ilmunya.”
(Tahdzib Suyaru A’lam An-Nubala, II/390)
Muhammad bin Ka’ab Al-Qurthubi Rahimahullah berkata :
“Apabila
Allah Ta’ala menghendaki seorang hamba menjadi baik, maka terdapat pada
dirinya tiga perkara ; faqih terhadap urusan din, zuhud terhadap dunia
dan selalu melihat aib-aibnya sendiri.”
(Shifatu Ash-Shafwah, II/132)
Ibrahim Al-Khawas Rahimahullah berkata :
“Bukanlah
ilmu itu dengan banyaknya meriwayatkan hadits, akan tetapi sesungguhnya
orang yang berilmu itu adalah orang yang mengikuti ilmu, mengamalkannya
dan mengikuti sunnah-sunnah, meskipun ia hanya memiliki sedikit ilmu.”
(Al-I’tisham, II/129)
Abdullah bin Mubarak Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya
awal dari ilmu itu adalah niat, kemudian mendengar, memahaminya,
mengamalkannya, menghafalnya lalu menyebarkannya.”
(Kitabu Al-Jihad, 36)
Al-Muzani Rahimahullah berkata :
“Saya
mendengar Asy-Syafi’i pernah mengatakan, ‘Barangsiapa yang mempelajari
Al-Qur’an, maka tinggilah derajatnya, barangsiapa yang berkata dengan
ilmu fiqih, maka berkembanglah semangatnya, barangsiapa menulis hadits,
maka kuatlah hujjahnya, barangsiapa yang mempelajari bahasa akan menjadi
lembutlah perangainya, barangsiapa yang mempelajari ilmu hisab maka
akan tepatlah pendapatnya, dan barangsiapa yang tidak menggugah hati dan
jiwanya (untuk belajar) tiada bermanfaat kemampuannya.”
(Tahdzib Siyaru A’lam An-Nubala, II/734)
Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :
“Kalaulah bukan karena ulama tentulah manusia seperti binatang.”
(Minhaju Al-Qashidin, 12)
Rabi’ Rahimahullah berkata :
“Ilmu adalah sarana untuk mendapatkan setiap keutamaan.”
(Tahdzib Siyaru Al-A’lam An-Nubala, IV/523)
Imam Ahmad Rahimahullah berkata :
“Manusia
sangat membutuhkan ilmu, melebihi kebutuhannya terhadap roti dan air,
karena ilmu dibutuhkan oleh manusia dalam setiap saat. Sedangkan roti
dan air dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyah, II/44-45)
Imam Az-Zuhri Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya lenyapnya ilmu itu disebabkan oleh lupa dan tidak mengulang kembali ilmu tersebut.”
(Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam An-Nubala, V/337)
Abu Yazid An Nasyali Rahimahullah berkata :
“Ilmu bagaikan gembok dan kuncinya adalah bertanya.”
(Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, II/62)
Abdullah bin Al-Mu’taz Rahimahullah berkata :
“Tergelincirnya orang alim adalah bagaikan pecahnya bahtera, dia tenggelam dan tenggelam bersamanya banyak manusia.”
(Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, II/27)

0 komentar:
Posting Komentar