Rabu, 13 Januari 2016

WASIAT ILMU DAN AMAL

07.36

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
“Rendah dirilah kalian pada orang yang mengajarkan ilmu dan rendah diri pula pada orang yang kalian ajari, janganlah kalian menjadi para ulama yang kasar.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, I/243)

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu berkata :
“Jadilah kalian orang-orang rabbani, hukama (ahli hikmah) dan fuqaha. Dikatakan bahwa rabbani adalah orang yang mendidik manusia dari ilmu yang kecil hingga yang besar.”
(Fath Al-Bari, I/212 dan Syarhu As-Sunnah, I/194)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Kalian berada pada masa dimana beramal lebih baik dari berilmu, dan akan datang suatu zaman ilmu lebih baik daripada beramal.”
(Tanbih Al-Ghafilin, 199)

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Meninggalnya seorang alim merupakan sebuah celah dalam Islam, dan tidak ada sesuatu yang bisa menambalnya, selama malam dan siang tidak bisa bersatu.”
(Syarhu As-Sunnah, I/244)

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Hendaklah kalian memiliki ilmu sebelum ilmu itu diangkat dan dilenyapkan, lenyapnya ilmu dengan wafatnya orang yang mengajarkannya. Seorang tidak akan mungkin dilahirkan dalam keadaan berilmu, karena sesungguhnya ilmu itu didapatkan dengan belajar.”
(Tahdzib Mau’idhah Al-Mu’minin, 16)

Mu’adz bin Jabal Radhiyallah anhu berkata :
“Pelajarilah ilmu, karena mempelajari ilmu karena Allah menceriminkan ketakutan; mencarinya ibadah; mengkajinya adalah tasbih; membahasnya adalah jihad; mengajarkan kepada orang yang tidak tahu adalah shadaqah; membelanjakan untuk keluarga adalah bentuk taqarrub. Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat sepi.”
(Minhaju Al-Qasidin, 15)

Amr bin Al-Ash Radhiyallahu anhu berkata :
“Orang yang berakal bukanlah orang yang sekedar mengetahui yang baik dari yang buruk, akan tetapi orang yang berakal adalah yang mengetahui mana yang baik dari dua keburukan.”
(Siyaru Al-A’lam An-Nubala, III/74)

Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata :
“Apabila kalian mendapatkan seorang alim yang mendekati penguasa, maka waspadalah karena ia adalah pencuri.”
(Mukhtashar Minhaju Al-Qasidin, 21)

Sa’id bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata :
“Celakalah orang yang tidak mengetahui sesuatu lalu ia mengatakan, ‘Saya mengetahuinya’.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, II/65)

Sa’id bin Al-Musayyib Rahimahullah berkata :
“Sungguh, Aku akan berjalan siang dan malam hanya untuk mencari satu hadits saja.”
(Tahdzib Siyaru A’lam An-Nubala, II/37)

Sa’id bin Al-Musayyib Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya hamba Allah itu bukanlah orang yang berpuasa dan shalat, akan tetapi mereka adalah yang faqih di dalam agamanya dan berfikir dalam urusannya.”
(Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, I/118)

Nasehat Imam Malik kepada Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah :
“Sesungguhnya aku melihat Allah telah menganugerahkan cahaya dalam hatimu, maka janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan berbuat maksiat.”
(Jawabu Al-Kafi, 140)

Imam Syafi’i Rhimahullah berkata :
“Aku mengadu kepada Waki (nam guru beliau) mengenai buruknya hafalanku,
Maka beliau menyarankan agar aku meninggalkan maksiat
Dan ketahuilah bahwa ilmu adalah keutamaan
Dan keutamaan Allah tak akan diberikan kepada orang-orang yang berbuat maksiat.”
(Jawabu Al-Kafi, 140)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata :
“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah seorang hamba yang bodoh dan fitnah seorang berilmu yang berbuat kejelekan, karena fitnah keduanya adalah sumber dari segala fitnah.”
(Imam Baghawai, Syarhu As-Sunnah, II/318)

Imam Az-Zuhri Rahimahullah berkata :
“Apabila suatu majlis berlama-lama, maka di dalamnya adalah bagian bagi setan.”
(Siyaru Alam An-Nubala, bab Adabu Da’wah)

Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah berkata :
“Kami bukanlah termasuk fuqaha. Tetapi, bila kami mendengarkan hadits, kami meriwayatkannya. Yang disebut fuqaha adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.”
(Tahdzib Suyaru A’lam An-Nubala, II/390)

Muhammad bin Ka’ab Al-Qurthubi Rahimahullah berkata :
“Apabila Allah Ta’ala menghendaki seorang hamba menjadi baik, maka terdapat pada dirinya tiga perkara ; faqih terhadap urusan din, zuhud terhadap dunia dan selalu melihat aib-aibnya sendiri.”
(Shifatu Ash-Shafwah, II/132)

Ibrahim Al-Khawas Rahimahullah berkata :
“Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya meriwayatkan hadits, akan tetapi sesungguhnya orang yang berilmu itu adalah orang yang mengikuti ilmu, mengamalkannya dan mengikuti sunnah-sunnah, meskipun ia hanya memiliki sedikit ilmu.”
(Al-I’tisham, II/129)

Abdullah bin Mubarak Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya awal dari ilmu itu adalah niat, kemudian mendengar, memahaminya, mengamalkannya, menghafalnya lalu menyebarkannya.”
(Kitabu Al-Jihad, 36)

Al-Muzani Rahimahullah berkata :
“Saya mendengar Asy-Syafi’i pernah mengatakan, ‘Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur’an, maka tinggilah derajatnya, barangsiapa yang berkata dengan ilmu fiqih, maka berkembanglah semangatnya, barangsiapa menulis hadits, maka kuatlah hujjahnya, barangsiapa yang mempelajari bahasa akan menjadi lembutlah perangainya, barangsiapa yang mempelajari ilmu hisab maka akan tepatlah pendapatnya, dan barangsiapa yang tidak menggugah hati dan jiwanya (untuk belajar) tiada bermanfaat kemampuannya.”
(Tahdzib Siyaru A’lam An-Nubala, II/734)

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :
“Kalaulah bukan karena ulama tentulah manusia seperti binatang.”
(Minhaju Al-Qashidin, 12)

Rabi’ Rahimahullah berkata :
“Ilmu adalah sarana untuk mendapatkan setiap keutamaan.”
(Tahdzib Siyaru Al-A’lam An-Nubala, IV/523)

Imam Ahmad Rahimahullah berkata :
“Manusia sangat membutuhkan ilmu, melebihi kebutuhannya terhadap roti dan air, karena ilmu dibutuhkan oleh manusia dalam setiap saat. Sedangkan roti dan air dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyah, II/44-45)

Imam Az-Zuhri Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya lenyapnya ilmu itu disebabkan oleh lupa dan tidak mengulang kembali ilmu tersebut.”
(Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam An-Nubala, V/337)

Abu Yazid An Nasyali Rahimahullah berkata :
“Ilmu bagaikan gembok dan kuncinya adalah bertanya.”
(Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, II/62)

Abdullah bin Al-Mu’taz Rahimahullah berkata :
“Tergelincirnya orang alim adalah bagaikan pecahnya bahtera, dia tenggelam dan tenggelam bersamanya banyak manusia.”
(Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, II/27)

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Da'wa Santri Salafi. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top