Rabu, 13 Januari 2016

WASIAT TENTANG TAUBAT DAN ISTIGHFAR

07.47


Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata :
“Allah tidak akan memberikan ilham kepada seorang hambaNya untuk beristighfar, sementara pada saat yang bersamaan Dia hendak memberikan adzab kepadanya.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 52)

Aisyah Radhiyallahu anha berkata :
“Beruntunglah orang-orang yang mendapat dalam catatan amal perbuatannya memuat banyak istighfar.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 51)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Ridhalah terhapa apa yang Allah telah berikan padamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya. Jauhilah hal-hal yang dilarang Allah niscaya engkau menjadi orang yang paling wara’, tunaikanlah apa yang sudah menjadi kewajibanmu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling ahli dalam ibadah.”
(Siyaru A’lam An-Nubala, I/497)

Yahya bin Mu’adz Rahimahullah berkata :
“Menurutku apa yang termasuk keterpedayaan terbesar adalah terus-menerus berbuat dosa sambil berharap maaf tanpa penyesalan, mengharap dekat dengan Allah tanpa berbuat ketaatan, menunggu masa panen surga padahal menanam benih neraka, mengharap negeri orang-orang yang taat dengan berbagai kemaksiatan, menunggu balasan tanpa usaha, dan mengharap kepada Allah dengan kelalaian.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 114)

Imam Qatadah Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya. Adapun penyakitnya adalah dosa-dosamu, sedangkan obatnya adalah istighfar.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 51)

Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata :
“Istighfar yang tidak disertai penghentian dari berbuat dosa, adalah seperti taubatnya pendusta.”
(Tahdzib Maw’idah Mukminin, 74)

Ibrahim bin Sufyan Rahimahullah berkata :
“Apabila rasa takut bersemayam dalam hati seseorang, ia akan merubah perasaan syahwatnya dari hatinya dan mengusir rasa cinta dunia.”
(Tahdzib Madariju As-Salikin, I/433)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata :
“Bertaubat dari dosa seperti meminum obat terhadap penyakit, betapa banyak obat yang karenanya menjadikan orang sehat.”
(Al-Fawa’id, 74)

Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata :
“Kulihat dosa-dosa mematikan hati
Membiasakannya berarti mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa berarti menghidupkan hati
Yang terbaik bagimu melindungi diri dari dosa
Tidaklah din ini rusak, melainkan ulah para raja
Sedang yang membahayakan adalah para ulama dan pendeta-pendetanya.”
(Tahdzib Syarh Aqidah Ath-Thahawiyah, 326)

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Da'wa Santri Salafi. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top