“Allah
tidak akan memberikan ilham kepada seorang hambaNya untuk beristighfar,
sementara pada saat yang bersamaan Dia hendak memberikan adzab
kepadanya.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 52)
Aisyah Radhiyallahu anha berkata :
“Beruntunglah orang-orang yang mendapat dalam catatan amal perbuatannya memuat banyak istighfar.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 51)
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Ridhalah
terhapa apa yang Allah telah berikan padamu, niscaya engkau menjadi
orang yang paling kaya. Jauhilah hal-hal yang dilarang Allah niscaya
engkau menjadi orang yang paling wara’, tunaikanlah apa yang sudah
menjadi kewajibanmu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling ahli
dalam ibadah.”
(Siyaru A’lam An-Nubala, I/497)
Yahya bin Mu’adz Rahimahullah berkata :
“Menurutku
apa yang termasuk keterpedayaan terbesar adalah terus-menerus berbuat
dosa sambil berharap maaf tanpa penyesalan, mengharap dekat dengan Allah
tanpa berbuat ketaatan, menunggu masa panen surga padahal menanam benih
neraka, mengharap negeri orang-orang yang taat dengan berbagai
kemaksiatan, menunggu balasan tanpa usaha, dan mengharap kepada Allah
dengan kelalaian.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 114)
Imam Qatadah Rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya
Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat
penangkalnya. Adapun penyakitnya adalah dosa-dosamu, sedangkan obatnya
adalah istighfar.”
(Tazkiyatu An-Nafs, 51)
Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata :
“Istighfar yang tidak disertai penghentian dari berbuat dosa, adalah seperti taubatnya pendusta.”
(Tahdzib Maw’idah Mukminin, 74)
Ibrahim bin Sufyan Rahimahullah berkata :
“Apabila
rasa takut bersemayam dalam hati seseorang, ia akan merubah perasaan
syahwatnya dari hatinya dan mengusir rasa cinta dunia.”
(Tahdzib Madariju As-Salikin, I/433)
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata :
“Bertaubat dari dosa seperti meminum obat terhadap penyakit, betapa banyak obat yang karenanya menjadikan orang sehat.”
(Al-Fawa’id, 74)
Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata :
“Kulihat dosa-dosa mematikan hati
Membiasakannya berarti mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa berarti menghidupkan hati
Yang terbaik bagimu melindungi diri dari dosa
Tidaklah din ini rusak, melainkan ulah para raja
Sedang yang membahayakan adalah para ulama dan pendeta-pendetanya.”
(Tahdzib Syarh Aqidah Ath-Thahawiyah, 326)


0 komentar:
Posting Komentar