Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu berkata :
“Kalau hati kita ini bersih, maka kita tidak akan puas membaca Al-Qur’an.”
(Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy-Syayathin, I/64)
Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata :
“Barangsiapa
yang membaca Al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada di dalamnya, maka
Allah Ta’ala akan menunjukinya dari kesesatan dan menjauhkan darinya
hisab yang buruk di Hari Kiamat.”
(Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, IX/1)
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Janganlah
engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, berjalanlah dengan
ajaran Al-Qur’an ke manapun ia mengarah. Barangsiapa yang datang
kepadamu membawa kebenaran, terimalah ia meskipun ia orang yang jauh dan
yang engkau benci. Barangsiapa yang datang kepadamu dengan membawa
kebathilan, maka tolaklah ia meskipun kerabat yang engkau cintai.”
(Shifatu Ash-Shafwah, I/419)
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :
“Ada
tiga hal yang barangsiapa ada pada dirinya, maka Allah Ta’ala akan
memenuhi hatinya dengan keimanan; mencintai orang-orang yang faqih,
membaca Al-Qur’an dan melaksanakan puasa.”
(Al-Adab Asy-Syar’iyyah, III/544)
Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu anhu berkata :
“Tidak
akan terjadi Hari Kiamat sampai Al-Qur’an itu dikembalikan di tempatnya
dimana ia diturunkan, Al-Qur’an itu mempunyai dengungan di sekitar
Arsy, sebagaimana dengan lebah, maka Allah berfirman, ‘Ada apa
denganmu?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rabbku, aku ini dibaca namun aku tidak
diamalkan’.”
(Syarhu As-Sunnah, I/317)
Jundub bin Junabah Radhiyallahu anhu berkata :
“Ketika
kami masa anak-anak (mendekati dewasa) pernah bersama Rasulullah
Shalallahu alaihi wa sallam, maka kami pelajari masalah-masalah
keimanan, baru kami memperlajari Al-Qur’an. Setelah kami memperlajari
Al-Qur’an bertambahlah keimanan kami.”
(Syiar A’lam An-Nubala, III/175)
Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata :
“Orang-orang
yang membawa (mengamalkan) Al-Qur’an ibarat orang yang membawa
panji-panji Islam. Ia tidak pernah bercanda bersama orang-orang yang
bercanda, tidak pula bermain bersama orang-orang yang bermain, sebagai
bukti pengagungan dia kepada Allah Ta’ala.”
(Mukhtashar Minhaju Al-Qashidin, 50)


0 komentar:
Posting Komentar